23 Mobil Plat Merah Dibakar

Proses Pemilihan Bupati Mojokerto Rusuh

Massa serang polisi dan dengan bom molotov.

Catatan: Yousri Nur Raja Agam


PROSES Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) Kabupaten Mojokerto rusuh. Kerusuhan itu berawal ketika sekitar 150 orang yang menyebut dirinya Lembaga Pemberdayaan Rakyat (LPR) Mojokerto berunjuk rasa di depang Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto, Jumat (21/5-2010) pagi.  Saat itu di dalam gedung sedang berlangsung sidang paripurna DPRD  dengan acara pemaparan visi dan misi calon bupati Mojokerto masabakti 2010-2015.

Tga pasangan calon bupati-wakil bupati, yakni Mustofa Kamal Phasa-Khoirun Nisa (Manis), Suwandi-Wahyudi Iswanto (Wasis) dan Khoirul Badik-Yazid Kohar (Khoko) bergantian menyampaikan paparan visi dan misinya.

Massa yang berunjukrasa itu awalnya hanya berorasi menuntut penundaan pelaksanaan Pemilu Kada Bupati Mojokerto. Mereka berhasil menerobos barikade polisi.  Massa terlebih dulu menyerang polisi dengan bom molotov. Mendapat serangan yang tak terduga ini, polisi pun kocar-kacir. Begitu berhasil memasuki halaman sembari berlari mereka melempari gedung dan merusak serta membakar mobil-mobil yang parkir dengan melemparkan bom molotov.

Mobil dinas dibakar dengan bom molotov

Pergerakan massa yang melakukan pelemparan bom molotov itu berlangsung dengan cepat. Semula beberapa mobil terbakar, akibat bom molotov membakar cat mobil, bahkan bagian bawah mobil. Beberapa kaca mobil pecah akibat lemparan bom molotov. Api berkobar dari dalam mobil, karena jok mobil terbakar.

Polisi yang sebelumnya lari kocar-kacir akhirnya kembali ke induk pasukan. Dengan perintah atasan, mereka memberikan tembakan peringatan dan membubarkan massa. Beberapa orang yang kelihatan sebagai provokator ditangkap. Melihat ada perlawanan, terjadi saling pukul dan kejar antara massa dengan polisi. Korban luka terjadi di kedua belah pihak.

103 Provokator

Kepolisian di Mojokerto bertindak cepat dan berhasil mengamankan 103 orang pengunjuk rasa. Mereka yang dianggap sebagai provokator itu dimintai keterangan terkait aksi anarki yang dilakukan di Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto.

Api berkobar membakar mobil plat merah

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Pratiknyo langsung meluncur ke Mojokerto begitu mendapat laporan anggotanya. Dari evaluasi yang dilakukan Jumat (21/5)  petang, polisi mengamankan barang bukti.

Dalam kerusuhan itu, 10 orang polisi terluka. Sebelumnya juga disebutkan, empat orang pengunjuk rasa dan satu orang pegawai sekretariat DPRD Kabupaten Mojokerto juga terluka. Polisi itu  di antaranya, Kapolsek Margersari AKP Komang dan Briptu Subandio anggota Polsek Suko, terkena serpihan bom molotov. Semua korban dirawat di RSUD Mojokerto. “Sasaran mereka adalah anggota berpangkat perwira,” ujar Irjen Pol Pratiknyo.

Kapolda Jatim Irjen Pol Pratiknyo di samping barang bukti

Berdasarkan catatan kepolisian, mobil yang dirusak massa sebanyak 23 unit. Semuanya berada di halaman Gedung DPRD. Dari jumlah itu, 10 di antaranya dibakar. Mobil yang dirusak terdiri dari 15 mobil dinas dan delapan mobil pribadi.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti, merinci selain menangkap 103 orang, bersama mereka disita barang bukti yang digunakan untuk merusak. BB itu, diantaranya 90 bom molotov, 3 korek api gas, 10 korek api kayu, 39 patok beton, 1 palu besi, 1 tang besi, 4 tongkat kayu, 1 batu paving, 1 batu kali,1 gulung tali rafia, 1 botol air mineral berisi pasir, 2 unit motor dan 3 unit truk pengangkut massa diamankan.

Wakil Walikota Mojokerto

Kendati hadir sebagai undangan, Wakil Walikota Mojokerto Mas’ud Yunus termasuk salah satu korban. Mobil dinas Honda Accord berwarna hitam  yang mengantarkannya ke gedung DPRD Mojokerto itu ikut terbakar.

Diperoleh informasi, massa yang berunjukrasa diduga berasal dari calon bupati yang dicoret oleh KPU. Mereka juga merasa keberatan fasilitas negara ditempeli gambar atau poster dari pejabat kini (incumbent).  Bupati Mojokerto Suwandi dianggap curang. Itulah sebabnya mobil-mobil di pendopo dan halaman kantor DPRD itu dibakar dengan menggunakan bom molotov.

Polres Mojokerto sebenarnya sudah melakukan antisipasi dengan mengerahkan 240 personel, tapi dilempari puluhan molotov, sehingga kewalahan, kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti.

Mobil yang terbakar diamankan

Polda Jatim sudah menurunkan personel bantuan ke Polres Mojokerto yakni 303 anggota Brimoda Jatim, satu kompi anggota Samapta, dan sejumlah mobil seperti mobil “water canon”, mobil APV, dan mobil penjinak bom.

Kemungkinan Ditunda

Pemprov Jatim akan mengkaji kemungkinan untuk menunda atau mengundur pelaksanaan pemilu kada di Kabupaten Mojokerto yang direncanakan pada 7 Juni 2010. Dikhawatirkan, peristiwa Jumat lalu itu membuat suasana di Mojokerto belum kondusif, jika dipaksakan tetap digelar sesuai jadwal.

Kabiro Administrasi Pemerintahan Setdaprov Jatim Jarianto kepada wartawan seusai shalat Jumat di Masjid Baitul Hamdi kantor gubernur, Jl Pahlawan Surabaya mengatakan, kemungkinan pemilu kada Kabupaten Mojokerto itu bisa saja diundur.

Kerusuhan di kantor DPRD Kabupaten Mojokerto, diduga kuat karena gagalnya calon bupati Dimyati Rosyid maju akibat kendala tes kesehatan.

Yang merekomendasikan kesehatan seorang calon bukanlah KPU setempat, melainkan tim dokter RS yang ditunjuk KPU. “Dokter kan tidak sembarangan menyebut kesehatan seorang calon bermasalah. Seharusnya calon bersangkutan bisa memahami hal tersebut. Seharusnya tim pemenangan calon bisa duduk bersama untuk mengklarifikasi ke dokter RS,” katanya.

Jarianto mengakui, Pemprov Jatim kecolongan mengantisipasi kerusuhan yang terjadi pada hari ini Mojokerto. Pasalnya, pemprov melalui Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Jatim yang di bawah wewenang Bakesbangpol Provinsi Jatim hanya memperoleh informasi ketidakpuasan salah satu calon.

Menurut Jarianto, ia akan berkoordinasi dengan Bakesbangpol Jatim, KPU Jatim, KPU Kabupaten Mojokerto dan Pemkab Mojokerto untuk mengatasi masalah itu. Ia mengharapkan masyarakat bisa menahan diri untuk kepentingan bersama dan keamanan Jatim secara keseluruhan.

Data berbeda diungkapkan Kabag Humas Pemkab Mojokerto Alfiah Ernawati. Setelah keruhan tersebut, Pemkab Mojokerto mengeluarkan data sebanyak 30 unit mobil rusak. Mobil plat merah yang dibakar dan rusak mencapai 23 buah sedangkan mobil plat hitam sebanyak 7 buah.

Belum Aman

Sanedi, anggota DPRD Kabupaten Mojokerto yang juga Ketua Hanura, DPD Mojokerto, menyatakan memang sbaiknya Pemilukada yang sudah dijadwalkan tanggal 7 Juni 2010 nanti ditunda dulu. Ia menyatakan, yakin situasi belum aman.

Usai kerusuhan, mobil-mobil diberi garis polisi (police line)

Pihaknya menyesalkan kejadian kerusuhan karena keamanan polisi yang tidak siap antisipasi kerusuhan. Padahal Massa hanya empat truk dan polisi tidak melakukan barikade tambahan ketika massa datang ke lokasi. Begitu massa menjebol barikade akhirnya bisa masuk dan melakukan pembakaran.

Kapolresta Mojokerto AKBP Budi Riyanto membatantah tidak siap. Sebab, pengamanan tidak hanya dari Polresta Mojokerto saja, juga ada bantuan dari Polda Jatim. Untuk mengantisipasi kerusuhan Polda Jatim telah mengirimkan bantuan 300 personil atau 300 orang pasukan Brimob ke lokasi kerusuhan.

Kapolda Jatim juga membantah polisi kecolongan hingga ada aksi pelemparan bom molotov. Usai amuk massa, polisi mendapat puluhan bom molotov yang tersimpan di 2 kardus. “Tidak ada kecolongan. Siapa bilang kecolongan. Kalau kecolongan berarti saat kejadian tidak ada polisi. Saat kejadian kita sudah menerjunkan 230 personel,” kata  Irjen Pol Pratiknyo.

Proses Pembiaran

Walaupun mengelak dikatakan kecolongan, namun pengunjuk rasa melawan petugas yang menghadang dengan bom molotov yang tidak diketahui sebelumnya oleh polisi. Bahkan, dengan molotov, pendemo juga membakar 15 mobil yang berada di halamam gedung DPRD dan Pemkab Kabupaten Mojokerto.

Aksi anarkis yang dilakukan oleh 150 orang dari Lembaga Pemberdayaan Rakyat (LPR) itu disayangkan pengamat politik yang juga Dosen Pasca Sarjana Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Haryadi.

“Ini bukan sekedar kecolongan, tapi pantas dipertanyakan. Kenapa dari awal kesannya seperti ada proses pembiaran,” kata Haryadi di Surabaya.

Kerusuhan di halaman Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto, muncul bukan atas inisiatif sendiri, tapi polanya termobilisasi. Apalagi dengan persiapan bom molotov. Itu betul-betul sudah dipersiapkan. Ini tragedi demokrasi, katanya. ****

*) Dihimpun dari berbagai media on-line.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: