Kiyai di PWNU Jatim

 

Mencium Aroma

Penggelembunganunjukrasa-pilkada

 

 

SURABAYA (radarpemilu) – SEJUMLAH  kyai yang duduk di PW NU Jawa Timur mulai mencium aroma ketidakberesan penghitungan suara Pilgub Jatim.

Karena itu, secara kompak, para kyai yang digawangi Rois Syuriah KH Miftahul Ahyar dan wakilnya KH Agoes Ali MAshuri menyerukan kepada masyarakat untuk ikut memantau.

Sementara itu, kendati optimis masih bisa menang Cawagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengaku miris dengan minimnya perbedaan perolehan suara. Pasalnya perbedaan perolehan suara ini sama-sama rawan digelembungkan.

“Kalau penggelembungan suara, kita (KarSa – Ka-ji) sama-sama khawatir,” ungkap Saifullah Yusuf dalam acara makan nasi bungkus bersama wartawan di pedopakan pemenangan KarSa Jln Comal, Surabaya, Rabu, (5/11).

Tapi, Miftahul Ahyar tetap berpendapat masyarakat patut dan perlu curiga jika terjadi perbedaan hasil penghitungan suara antara lembaga survei dengan hasil Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat.

“Kalau terjadi perbedaan (hasil penghitungan) antara lembaga survei dengan KPUD, masyarakat patut curiga. Kami (PWNU Jatim) pun begitu, selama tidak ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, perlu curiga,” jelas KH Miftachul Akhyar, didampingi wakilnya, KH Ali Mashuri kepada Surabaya Pagi di kantor PWNU, Surabaya, Rabu (5/11).

Sebab, menurut hasil quick count, 7 lembaga survei independen menunjukkan bahwa pasangan Cagub dan Cawagub Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) unggul tipis atas Karsa. Ia mengakui bahwa hanya hasil penghitungan KPUD-lah yang dapat dijadikan dasar hukum. Namun, penghitungan lembaga survei independen tak dapat dinafikan karena selama ini hasilnya akurat.

Menurutnya, dalam banyak kesempatan, hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei independen, terutama Lembaga Survei Indonesia dan Lingkar Survei Indonesia, tak jauh berbeda dengan hasil penghitungan manual KPUD.
“Karena (metode yang digunakan lembaga survei independen) hitungannya jelas, rumusannya pasti, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasilnya pun, sampai sekarang, tidak pernah ada yang meleset,” jelasnya.

Perbedaan perolehan suara yang sangat tipis antara Kaji dan Karsa, tambah Kiai Miftach, berpeluang terjadi manipulasi atau ‘penggelembungan’ suara. Karena itu, pihaknya meminta KPUD setempat dan aparat pemerintah terkait agar bekerja sungguh-sungguh, jujur dan adil.

“Tanpa itu, kami mengkhawatirkan bahwa penetapan hasil Pilgub akan dapat memicu konflik horisontal berkepanjangan sebagaimana yang terjadi pada tragedi di Maluku Utara. Jika hal itu sampai terjadi, maka, jelas akan mencederai demokrasi yang sedang kita jalankan ini,” tandasnya.

Miris

Gus Ipul juga menuturkan, sebelum ada perhitungan manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, hasil quick count masih belum bisa dijadikan patokan. Pasalnya perbedaan hasil yang didapat masih dibawah marjin eror (batas kesalahan). Marjin erornya adalah antara satu – tiga persen, namun perbedaan suara yang dihasilkan kemarin masin nol, koma.

Bahkan hasil quick count kemarin masih banyak yang perlu dikoreksi. Semisal beberapa daerah yang disebutkan KarSa kalah ternyata dari hasil quick count KarSa menunjukkan angka menang. Semisal daerah Sumenep, Pamekasaan, Situbondo, Bondowoso, maupun Kota Probolinggo. “Total daerah yang kita menangkan ada 22 daerah kabupaten/kota,” cetus mantan Menteri Percepatan Daerah Tertinggal (PDT) itu.

Hasil quick count di bawah marjin eror itu diakui sejumlah pihak sulit untuk dibedakan, setidaknya menurut Dosen politik FISIP Universitas Airlangga (Unair), Priyatmoko. Menurutnya, setiap lembaga survey memiliki metodologi yang diyakini cukup akurat. Tetapi mereka tetap akan mencantumkan margin error atau angka toleransi kesalahan. Kalau suatu hasil QC hanya memiliki selisih yang sangat tipis di bawah angka toleransi, maka hasil final tidak bisa diputuskan.

“Pada dasarnya, QC adalah suatu metode untuk mengetahui gambaran suatu hasil Pilkada secara cepat. Tetapi saya ingatkan bahwa QC berdasarkan pada sampling, bukan sensus. Kalau sampling, mereka hanya mengambil beberapa TPS melalui berbagai pertimbangan dan kriteria. Kalau sensus, semuanya didata dan tidak ada satu pun yang tidak terdata,” kata Priyatmoko, yang juga menjadi peneliti itu.

Dosen yang aktif di lembaga kajian La Casa itu menambahkan, pihaknya yakin masyarakat Jatim sudah sangat cerdas. Sehingga tidak mudah menyimpulkan suatu QC sebagai keputusan final. “Keputusan final yang sesungguhnya adalah di KPU Jatim. Lebih baik kita tunggu hasilnya nanti dari KPU secara resmi, dan saya berharap semua pihak bisa menahan diri,” paparnya.

Dalam setiap lembaga QC, tambah Priyatmoko, meski memiliki ambang batas kesalahan. Kalau selisih perolehan suara cukup telak sampai di atas 10 persen, maka tidak ada masalah, karena masih di atas ambang batas kesalahan QC. Tetapi kasus di Pilkada Jatim putaran kedua ini, hasil QC hanya memiliki selisih yang sangat rendah, antara 0,5 hingga 1,2 persen. “Kalau kondisinya seperti itu, saya yakin tidak ada orang yang berani memberikan kesimpulan menang atau kalah,” jelasnya.

Ditempat terpisah, koordinator JPPR Dadan S Suharmawijaya menambahkan, hasil quick count yang dilakukan masing-masing calon bisa jadi akan menjadi senjata bagi mereka untuk melakukan gugatan dikemudian hari.

Kendati KPU Jatim sudah mempunyai perhitungan sendiri yang dilakukan secara manual sesuai dnegan undang-undang. “Namun mereka mempunyai alasan dan data,” jelas Dadan.

Sementara itu, KH Agoes Ali Mashuri. Pengasuh Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, yang akrab disapa Gus Ali juga mempertanyakan jika hasil penghitungan KPUD nantinya berbeda dengan hitungan lembaga survei independen.

Menurutnya, masyarakat awam telah mengetahui hasil Pilkada Jatim yang digelar kemarin itu melalui penghitungan cepat yang disiarkan di televisi. “Masyarakat tahunya Kaji menang, meski kata lembaga-lembaga survei itu, selisihnya tipis,” tandasnya.

Artinya, kata Gus Ali, jika kemudian ternyata hasil penghitungan yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Timur menunjukkan hasil yang berbeda, maka patut dipertanyakan. “Itu bisa bahaya,” imbuhnya.

Masyarakat Sabar

Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur Jatim, Setia Purwaka langsung turun tangan mernyikapi tipisnya perbedaan penghitungan suara ini.

Setia Purwaka meminta pada masyarakat Jawa Timur untuk tetap bersabar, menunggu hasil hitung manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur pada 11 November nanti.

“Kita tidak melarang masyarakat yang memercayai hasil hitung cepat. Hanya saja, penghitungan yang mempunyai landasan hukum adalah penghitungan yang dilakukan KPU Jawa Timur. Kita ini kan negara hukum,” kata Setia di kantor desk Pilkada Pemprov Jatim, Rabu, (5/11)
Tapi, menurut dia, terkait siapa pemenang dalam Pilgub Jawa Timur 2008, tetap berdasarkan penghitungan manual versi KPU. “Lagipula, perhitungan cepat tidak ada dalam undang-undang,” cetusnya.

Apalagi, kata Setia lebih jauh perhitungan cepat hanya berdasarkan sejumlah sampel, sedangkan penghitungan KPU bersifat manual dari TPS dan berjenjang terus keatas dan bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk itu, mantan pejabat di Depkominfo ini meminta tokoh-tokoh masyarakat untuk ikut membantu keamanan dan ketertiban. Hasil hitung cepat diharapkan tidak menjadi sebuah opini yang akhirnya menjadi alasan konflik.

Ketua DPRD Jawa Timur Fathorrasjid juga mengatakan hitung ulang bukanlah hasil akhir pemungutan suara. Masyarakat maupun pemerintah tetap harus menunggu hasil penghitungan manual KPU Jawa Timur.

“Sebaiknya masyarakat menahan diri dulu dan tidak melibatkan emosi dalam menyikapi hitung ulang. Boleh saja percaya pada hitung ulang, tapi masih ada mekanisme yang sesuai undang-undang, yakni penghitungan KPU,” kata Fathor. (spg/yra)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: