Pilgub Jatim (2)

Pemenangnya Tunggu

Hasil Perhitungan KPU

Kartu Pemilih yang bakal dihitung ulang di KPU

Kartu Pemilih yang bakal dihitung ulang di KPU

 

 

SURABAYA (radarpemilu) – PILKADA

 

 

putaran ke dua pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur, selesai dilaksanakan, Selasa (4/11). Pertarungan Khofifah Indar Parawansa Mudjiono (Ka-Ji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) dalam coblosan kedua Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur (Pilgub) Jatim, Selasa (4/11), menunjukkan hasil perolehan sangat ketat.
Karena itu pula, empat lembaga survei belum berani memastikan siapa yang bakal menjadi pemenang karena selisih angkanya tipis.

Hasil penghitungan cepat (quick count) Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, Ka-Ji meraih 50,55 persen suara, sedangkan KarSa meraih 49,45 persen.
“Namun kami tidak bisa menyimpulkan siapa pemenangnya karena selisih suara kedua pasangan masih berada dalam area margin of error,” jelas Adam Kamil, Peneliti LSI dalam konfrensi pers di poskonya, Hotel Mercure.
 
 
 

 

 

 

Margin of error (toleransi kesalahan) yang ditetapkan dalam quick count ini adalah 1-2 persen.

Artinya, suara milik kedua pasangan terbuka kemungkinan naik atau turun antara 1-2 persen dari penghitungan manual KPU.

“Tapi kalau mengacu pengalaman kami selama ini, selisih hasil quick count kami dengan KPU rata-rata hanya nol koma,” katanya.

 

Dalam penghitungan cepat ini, LSI menarik suara dari sample 397 TPS (tempat pemungutan suara). Sebenarnya jumlah sample yang ditetapkan 400 TPS yang tersebar di 38 kota/kabupaten. Namun ada tiga TPS, di Ponorogo, Pacitan, dan Tulungagung yang datanya belum masuk hingga hasil quick count diumumkan pukul 16.00 WIB.

Demikian pula Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP), tidak berani menyimpulkan siapa pemenang pada pilgub putaran kedua ini, meski hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS dimenangkan Ka-Ji. Pasalnya, dalam hasil quick qount, perbedaan angka antara Ka-Ji dan KarSa sangat tipis, di bawah angka 2 persen.

“Kami tidak berani mengklaim kemenangan Ka-Ji. Karena perbedaannya sangat tipis,” kata Direktur LSI Eka Kusmayadi dalam jumpa pers di ruang Bali Room Hotel JW Marriot.

Dari hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS di seluruh Jatim, Ka-Ji meraup 50,76 persen, KarSa 49,24 persen. KarSa menang di beberapa daerah seperti Madura (50 %) dan KaJi 47,50 %. Untuk Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Ka-Ji meraup 56,21% dan KarSa 43,79%. Untuk Surabaya dan Sidoarjo, KaJi 52,43% dan KarSa 47,57%.

Menurut Eka, posisi keduanya bisa saja berubah sebaliknya. Alasan tidak mengklaim siapa pemenang, katanya, adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Senada, Lembaga Survei Nasional (LSN) juga menyatakan untuk sementara pasangan Ka-Ji unggul tipis. Lewat perhitungan cepat yang mereka lakukan, Ka-Ji meraih 50,29 %, sementara KarSa memperoleh 49,71 %. “Quick count LSN didasarkan atas pengamatan dan pencatatan ratusan relawan di seluruh Jawa Timur,” kata Umar Bakry, Direktur LSN.

LSN juga belum berani memastikan pasangan Ka-Ji sebagai pemenang karena perbedaan yang sangat tipis memungkinkan terjadinya perubahan suara pada perhitungan manual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim.

“Secara metodologi, dengan margin of error plus minus satu persen, masih ada kemungkinan KarSa memperoleh suara 50,29 persen dan ada kemungkinan pula Ka-Ji memperoleh suara riil 49,71 persen,” katanya. Menurut Umar, pemilih yang tidak menggunakan hak pilih sebesar 46,5 persen sehingga tingkat partisipasi dalam Pilgub Jatim kali ini 53,5 persen.

Hal sama didapat dari quick count Pusat Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), yakni Ka-Ji meraih 50,83 % suara, Karsa 49,17 % suara. Hasil itu disampaikan Direktur Eksekutif Puskaptis, Husin Yazid di Hotel Inna Simpang Surabaya.

Dikatakan, dalam survei pihaknya menggunakan responden 380-400 TPS yang telah melakukan penghitungan, dengan sample 152 kelurahan/desa dan 10 hingga 15 TPS per desa, serta dengan margin of error (tingkat kesalahan) sekitar satu persen.

“Selisih yang sangat sedikit ini menurut angka statistik sangat riskan. Dalam penghitungan cepat, pasangan Ka-Ji memang unggul, namun hasil final penghitungan resmi ada di KPU Jatim,” kata Husin.

Berkah PDIP

Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Adam Kamil meyakini keberhasilan Ka-Ji ini karena berkah PDIP. Sementara untuk suara nahdliyin (warga NU), baik yang di PKB maupun yang di partai lain, terdistribusi merata untuk kedua pasangan.

Bukti ini bisa terlihat dari suara Ka-Ji yang cukup tinggi di daerah-daerah basis PDIP. Adam mencontohkan, kemenangan Ka-Ji di kawasan Arek (Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, dan Malang) yang mencapai 52,52 persen dan KarSa 47,45 persen. Kondisi ini berbalik dibanding putaran pertama 23 Juli lalu. Saat itu Ka-Ji kalah dari Karsa, bahkan khusus Surabaya juga kalah dari pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR).

Bulan September atau dua bulan setelah putaran pertama berlalu, LSI melakukan survei. Hasilnya, di wilayah ini terlihat kecenderungan KarSa masih jauh mengungguli Ka-Ji. Tetapi di luar itu ada pemilih yang masih mengambang, yang jumlahnya juga besar.

Mereka ini utamanya eks pemilih Salam (Soenarjo-Ali Maschan) dan jago PDIP. “Oktober kemarin, PDIP bergabung ke Kaji. Inilah yang membuat Ka-Ji unggul,” katanya.

Berdasarkan survei LSI, untuk daerah Pendalungan (antara Pasuruan hingga Banyuwangi), Ka-Ji meraih 49,15 5 suara dan KarSa 50,85 %. Untuk daerah Madura, KarSa meraih 56,03 %, Ka-Ji 43,07 %, untuk daerah Pantura di antaranya Gresik- Lamongan-Bojonegoro, Ka-Ji meraih 58,73 % dan KarSa 41,27 %. Sedangkan untuk daerah Mataraman seperti Madiun dan Ngawi, KarSa meraih 50,79 % suara, Ka-Ji 49,21 %.

Atas perolehan hasil ini, baik Khofifah maupun Soekarwo bisa menerima. “Yang penting pemilihan gubernur berjalan aman dan damai,” tegas Soekarwo kepada wartawan.

Menurut Pakde, siapapun yang terpilih, itu merupakan pilihan rakyat Jatim dan diridhai Tuhan. Tapi mengenai kepastian siapa pemenangnya, tentu harus menunggu penghitungan manual dan keputusan resmi dari KPUD. “Kalau sudah ditetapkan KPUD, semua pihak harus menghargai keputusan tersebut,” jelasnya.

Soekarwo dan keluarganya kemarin mencoblos di TPS 27 di Jl Kertajaya Indah Tengah Blok H, Kelurahan Manyar Sabrangan, sekitar pukul 08.10 WIB. Selain Pakde dan istri, Nina Kirana, tiga anaknya, Ferdian Timur Satyagraha, Karina Ayu Paramita, dan Kartika Ayu Pramitasari serta menantunya juga ikut mencoblos.

Disinggung mengenai hasil akhir pilgub putaran kedua nanti, jika menang Pakde berjanji mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama membangun Jatim. Dengan prioritas menangani masalah perekonomian yang saat ini kritis menyusul adanya semburan lumpur Lapindo.

Sementara kalau kalah, Pakde mengaku akan kembali ke basic awal sebagai akademisi. “Saya ini kan dosen, demikian juga dengan istri. Kalau tak terpilih, ya kembali ke maqam keluarga sebagai akademisi,” tukasnya. Selain itu, Pakde juga ingin menjadi penulis.

Berdasarkan hasil penghitungan suara di TPS 27 Kelurahan Manyar Sabrangan tempat Pakde mencoblos, dari 200 orang yang menggunakan hak suaranya, KarSa menang mutlak dengan 172 suara (87 persen), Ka-Ji 25 suara (12 persen), dan tiga suara tidak sah.

Pendukung Ka-Ji Tegang

Seperti halnya KarSa, proses penghitungan suara melalui penghitungan cepat membuat jantung calon gubernur Khofifah Indar Parawansa dan pendukungnya berdebar-debar. Di posko Ka-Ji di Deltasari, Khofifah terlihat pucat, matanya sembab. Meski demikian, ia selalu tampil dengan senyuman. Sejak awal hingga akhir, Khofifah tidak melihat sama sekali proses quick count. Ia hanya keluar kamar tidurnya ketika sedang live show dengan beberapa crew TV.

Setelah itu, ia kembali ke kamar. Sesekali ia melemparkan senyum kepada pendukungnya. “Ibu menang….,” teriak pendukung Ka-Ji dari pengurus Muslimat ketika melihat Khofifah hendak masuk kamar. Pengurus Muslimat itu di antaranya, Asmah Syahroni (Dewan Penasihat PP Muslimat NU), Umi Sa’adah (PW Muslimat Jatim), Faridah Sholahuddin Wahid (istri KH Shalahuddin Wahid) dan Faridah Hanum (Ketua Fatayat NU).

Tidak hanya Khofifah, ruang tamu yang dijubeli pengurus muslimat, tim sukses dan wartawan itu terlihat tegang. Mata mereka tak mau lepas dari layar TV. Tiap perubahan perolehan suara tak lepas dari pengamatan mereka. Mulut pendukung itu pun komat-kamit berdoa. “Alhamdulillah naik lagi (perolehan suara Ka-Ji naik),” ucap mereka serentak. Tapi ketika suara Ka-Ji turun, muka mereka kembali tegang dan pucat.

Tiga jam mereka tegang di depan TV, akhirnya penantian sosok Khofifah yang diidam-idamkan memperoleh suara terbanyak, meskipun tipis.

“Kalau Allah memberi kemenangan, ini adalah kemenangan rakyat Jatim. Saya selalu menyampaikan, ini adalah proses perjuangan seluruh rakyat Jatim,” tutur Khofifah. Namun ia tak ingin berbesar hati. Ia akan menunggu hingga hasil penghitungan manual KPU Jatim usai. “Kami harus menjaga bagaimana proses penghitungan manual itu dilakukan secara jujur,” katanya. (surya/yra)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: