Kaum Hawa di Pemilu

Mungkinkah Sepertiga

Anggota Parlemen Indonesia

Dari Kaum Hawa?

Ditempatkan di Nomor 3, Bakal Kursi Hanya 1

DINAMIKA demokrasi di Indonesia menghendaki adanya peningkatan kuantitas keterwakilan perempuan. Paling tidak itu tecermin dari adanya keharusan di UU Pemilu agar parpol memenuhi 30 persen caleg perempuan di daftar calon wakil rakyatnya. Mungkinkah sepertiga anggota parlemen kita mendatang dari kaum Hawa?

—-

Rata-rata parpol memang sudah memenuhi target 30 persen perempuan di daftar caleg. Hanya, bila melihat posisi para politikus kaum Hawa dalam nomor urut caleg, terkesan masih sebatas formalitas di atas kertas. Sebab, bila dilihat dari hasil Pemilu 2004, lalu kita bandingkan dengan nomor urut yang diberikan kepada para caleg perempuan itu, sangat kecil kemungkinan mereka melenggang ke Senayan.

Perempuan seperti berada di daerah ”grey dapil”. Sebagian di antara mereka berada di nomor antara jadi dan tidak jadi. Nomor yang membutuhkan kerja keras agar jadi, bahkan butuh keajaiban.

Penyusunan nomor urut menerapkan sistem setiap tiga calon harus ada satu perempuan. Intinya, seorang calon perempuan harus masuk tiga besar. Walaupun sistem itu sudah diterapakan, pada kenyataannya, kebanyakan caleg perempuan itu menempati nomor urut tiga. Posisi itulah yang disebut grey karena patokan pemilu lalu kebanyakan parpol hanya meraih satu atau dua kursi di setiap dapil.

Dapil Banten I (Pandeglang dan Lebak) -yang kini dipecah dengan Banten II (Cilegon, Serang, dan Kota Serang) bisa dijadikan salah satu contoh. PKS yang pada Pemilu 2004 hanya mendapatkan 1 kursi memasang caleg perempuan, yakni Tini Rochmawati, di nomor urut 3.

Nasib yang sama juga dialami Ratu Etty Siti Setiaty (PAN) dan Ratu Mas Intan (PKB). Keduanya juga mendapat nomor urut 3. Padahal, partainya hanya merebut satu kursi pada Pemilu 2004 di dapil Banten I.

Tumbu Saraswati (PDIP) juga tak begitu beruntung. Bila Tumbu dipasang di nomor urut 2 pada Pemilu 2004, untuk Pemilu 2009 dia turun peringkat di nomor urut 3. Padahal, pada Pemilu 2004, PDIP hanya meraih 2 kursi di Banten I yang membuat Tumbu terpilih. Peluang Tumbu untuk kembali duduk di parlemen kini mengecil karena dia dipasang di nomor urut 3.

Bagaimana Golkar, PPP, dan Demokrat ? Di dapil Banten I, ketiga parpol itu relatif sudah cukup proporsional. Golkar yang mendapat 3 kursi, misalnya, memasang Rachmi Dewi Wulansari di nomor urut 3. Sedangkan PPP dan Partai Demokrat yang mendapat satu kursi juga menempatkan caleg perempuan di nomor urut 1. Mereka adalah Irna Narulita (PPP) dan Ratu Siti Romlah (Partai Demokrat).

Realitas di dapil Jateng V (Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Kota Surakarta) juga cukup menarik. Sejumlah caleg perempuan, seperti Mujiyati (PKS), Dewi Handayani (PKB), dan Endang Srikarti Handayani (Partai Golkar), cuma mendapat nomor urut 3. Padahal, pada pemilu lalu masing-masing partainya hanya merebut 1 kursi.

Siti Hajar, caleg PPP, malah harus lebih menahan napas. Dia diberi nomor urut 3. Padahal, pada Pemilu 2004, partai berlambang Kakbah itu tidak memperoleh satu kursi pun dari dapil Jateng V.

Partai Demokrat yang sempat merebut 1 kursi agak lumayan. Dengan penuh percaya diri, partainya SBY itu memasang GRAy Koes Murtiyah di nomor urut 1.

PDIP juga menempatkan Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri, di nomor urut yang sangat aman, yakni nomor urut satu. Apalagi, dapil Jateng V merupakan kantong suara partai berlambang banteng moncong putih. Pada pemilu lalu, PDIP meraup tiga kursi dari dapil itu. PDIP hanya ada dua perempuan yang menempati puncak susunan caleg. Selain Puan, satunya lagi Ribka Tjiptaning di dapil Jabar IV.

Tapi, ada yang tragis lagi menimpa posisi perempuan. Ada parpol yang tidak menempatkan perempuan dalam nomor urut 1-3. Misalnya, PAN di dapil V Jateng. Fenomena seperti itu cukup banyak terjadi di dapil lain.

Beberapa di antaranya adalah PPP di dapil Banten III, Jabar III, Jabar IX, Jabar X, Jateng VI, Jateng X, dan Jatim VI. PKS di dapil Jabar VIII, Jabar XI, Jateng IV, dan Jatim VII. PKB di dapil Jabar I, Jabar IV, dan Jateng I. Golkar di dapil Jateng IV dan Jateng IX, serta PAN di dapil Jateng I, Jateng III, Jateng V, dan Jatim III.

Bagaimana reaksi para petinggi partai? Ketika dikonfirmasi, Sekjen DPP PDIP Pramono Anung membantah meminggirkan caleg perempuan. Dia menyebutkan, justru partainya menargetkan caleg perempuan yang menembus parlemen pada periode mendatang akan lebih banyak daripada Pemilu 2004. ”Kami berusaha menempatkan perempuan di nomor-nomor yang menjanjikan. Jadi, hitungannya jadi, bukan sebatas formalitas,” katanya.

Pram -begitu dia akrab disapa- menuturkan, jumlah caleg perempuan PDIP yang masuk daftar caleg tetap (DCT) sebenarnya paling banyak dibandingkan dengan parpol lain, yakni 221 orang atau 35,19 persen dari total caleg. Namun, dia mengakui, memang hanya dua orang yang mendapat nomor urut satu. Yaitu, Ribka Tjiptaning di dapil Jabar IV dan Puan Maharani di dapil Jateng V.

”Tapi, tidak fair kalau kami dianggap tidak serius,” ujarnya. Sebab, ungkap Pram, sebagai partai besar, caleg perempuan PDIP yang berada di nomor urut 2 atau 3 tetap berpeluang jadi. Dia mencontohkan, Rieke Diah Pitaloka (nomor urut 2 di dapil Jabar 2), Eva Kusuma Sundari (nomor urut 3 di dapil Jatim VI), dan Indah Kurnia (nomor urut 3 di dapil Jatim I). ”Mereka memang tidak di nomor satu. Tapi, mereka pasti jadi,” tegasnya.

Sekjen DPP PPP Irgan Chairul Mahfidz juga membantah bahwa penempatan caleg perempuan di PPP sebatas formalitas untuk memenuhi target 30 persen yang diatur UU Pemilu. ”Kami punya komitmen untuk menjadikan caleg perempuan PPP benar-benar bisa terpilih dengan memasang di nomor jadi,” katanya.

Dia menyebutkan, partainya telah menyiapkan caleg perempuan dengan cukup baik. Dari 77 dapil yang ada, tutur dia, terdapat 14 caleg perempuan di nomor urut 1, 17 caleg perempuan di nomor urut 2, dan 29 caleg perempuan di nomor urut 3.

”Memang, masih ada sembilan dapil yang sama sekali tidak ada caleg perempuan. Sebagian karena kandidat caleg perempuan yang mendaftar kurang persyaratannya,” jelas Irgan.

Tapi, faktanya, ada caleg PPP yang tidak dipasang di nomor jadi? ”Semua tetap harus dihitung. Terutama caleg yang mampu mendongkrak perolehan suara,” jawabnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PAN Totok Daryanto menegaskan, persoalan nomor urut sudah tidak lagi menjadi perdebatan di kalangan kader PAN. Sebab, PAN menggunakan sistem suara terbanyak. Dengan begitu, caleg yang memperoleh suara terbanyak, tak peduli berapa nomor urutnya, akan ditetapkan sebagai caleg terpilih.

”Jadi, caleg-caleg PAN, terutama caleg perempuan PAN, tak perlu berkecil hati. Di nomor urut berapa pun mereka tetap bisa terpilih asal mendapatkan suara dari pemilih. Mereka dilindungi partai,” ujarnya.

Tapi, psikologis pemilih masih ”memandang lebih” caleg bernomor urut atas? ”Masyarakat pemilih secara umum sudah tahu kok. Tidak perlu khawatir. Apalagi, Golkar dan Demokrat kan juga menerapkan sistem suara terbanyak. Ini memudahkan sosialisasinya,” tegas Totok.

Walaupun para petinggi partai sudah menyebut adanya pemerataan dan keadilan dalam menempatkan posisi perempuan, tampaknya masih sulit penghuni Senayan diisi 30 persen perempuan. itu terjadi karena kebanyakan mereka di daerah grey. (jp/yous)

Satu Balasan ke Kaum Hawa di Pemilu

  1. M.SAID. CALEG PMB DPR RI mengatakan:

    # MUHAMMAD SAID. S.Ag
    # CALEG DPR RI PARTAI MATAHARI BANGSA (PMB) DAPIL GRESIK – LAMONGAN
    # Sebelum semua terjadi, mari kita sama2 introspeksi akan kekurangan dan keterbatasan kita masing2. Jangan pernah merasa paling pinter apalagi merasa paling benar sendiri. Segala sesuatu butuh penyelesaian yang arif dan memberikan solusi jitu dan “kepuasan” bagi semua. kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita, karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
    menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah. tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!!
    Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin
    yang “pinter” tapi minteri. Percayalah !!! masih ada jalan, jangan pernah menyerah sebelum bertarung dan jangan pernah skeptis banget dengan orang yang masih mau peduli dan punya niatan baik untuk berjuang ditengah2 morat-maritnya mental dan moralitas. Kalau semua ogah dan tidak peduli….justru ini akan menjadi kesempatan empuk bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan.

    Terimakasih Komentarnya, semoga yang lain juga dapat memahami apa yang anda mau. (rp)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: