Akhirnya Khofifah Kalah

11 November, 2008

Soekarwo Menangkan

Pilkada Jatim

KarSa 50,20% – KaJi 49,80%

Dr.H.Soekarwo

Dr.H.Soekarwo

SSURABAYA (radarpemilu) – KENDATI pada quick count, tidak unggul, namun akhirnya pasangan KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) berhasil memenangkan Pilkada Jawa Timur. Dengan demikian pasangan Soekarwo-Saifullah ini berhak menduduki jabatan gubernur-wakil gubernur jawa Timur masabakti 2008-2013.

             Acara penghitungan suara Pilgub Jatim yang berlangsung di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya, Selasa (11/11) berlangsung tegang. Jalan raya di sekitar pusat kota Surabaya itu terpaksa ditutup, karena sejak pagi sudah dipadati pengunjukrasa dari kubu Kaji (Khofifah Indar Parawansa) yang sudah merasa kalah setelah rekapitulasi suara di 38 kabupaten-kota di Jatim, selesai Senin (10/11). Dari perhitungan itu, pasangan KarSa unggul di 22 kabupaten/kota dan KaJi di 16 kabupaten/kota.

            Penghitungan suara oleh KPU Jatim itu berakhir pukul 15.30 WIB dengan kemenangan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Selisihnya tipis, hanya 60.223 suara atau 0,40 persen.

            Pasangan KarSa unggul perolehan suara sebanyak 7.729.944 atau 50,20 persen.  Sedangkan  pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) yang unggul tipis pada quick count,  mendapatkan suara 7.669.721 atau 49,80 persen. Dengan begitu KPUD akhirnya menetapkan pasangan KarSa sebagai pemenang dalam Pilgub Jatim putaran kedua dengan selisih angka dari pasangan kaJi sebanyak 60.223 suara.

            Setelah disahkan dan ditandatangani oleh empat anggota KPU Jatim, yaitu Wahyudi Purnomo, Arif Budiman, Yayuk Wahyuningse dan H Najib Hamid.

Anggota KPU Jatim sedang melakukan penghitungan

            Tim sukses pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) menolak menandatangani hasil rekapitulasi penghitungan suara. Alasannya, banyak kecurangan yang terjadi di lapangan. Namun, secara pasti dan tegas belum disebutkan di mana terjadi kecurangan itu.

            “Kami menolak menandatangani berita acara rekapitulasi hasil perhitungan suara. Kami akan mengajukan gugatan karena menemukan banyaknya kecurangan,” kata Sekreteris Tim Pemenangan Pasangan KaJi, Muhammad Mirdasy dalam forum rapat pleno terbuka KPU Jatim  di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya itu. Sedangkan Ketua Tim pemenangan KarSa, Martono langsung menandatang berita acara penghitungan.

 

Kumpul di Posko

            Dr.H.Soekarwo,SH,MHum  yang akrab dengan panggilan Pakde Karwo itu langsung mendatangi Posko Pemenangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KarSa) di Jalan Comal Surabaya.           Pakde Karwo berbasa-basi mengucapkan terima kasih kepada pasangan KaJi yang telah memulai pemilihan gubernur demokratis. “Terimakasih saya untuk ibu Khoifah yang bersama-sama mewujudkan Pilgub yang demokratis”, ujarnya.

            Pernyataan politik Soekarwo itu diucapkan setelah KPU Jatim menetapkannya sebagai calon gubernur (cagub) terpilih. Soekarwo mengingatkan, semua pihak melupakan perbedaan saat pilgub dan menyatukan langkah guna membangun Jatim lebih baik di masa depan.

            Soekarwo tetap menyatakan tekadnya untuk membangun Jatim lebih baik di masa depan. Terutama peningkatan kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan kue ekonomi. Diharapkan dengan demikian kesejahteraan itu dinikmati rakyat Jatim secara lebih adil.

            Di Posko Karsa di Jalan Comal setelah adanya pengumuman KPU Jatim bahwa Karsa tampil sebagai pemenang, ratusan pendukung Karsa melakukan sujud syukur. Mereka meluapkan kegembiraan dengan memanjatkan syukur kepada Allah SWT, (yous).


Pilgub Jatim (3)

5 November, 2008

 

 

Golput

 

Menang Mutlak

 

SURABAYA (radarpemilu) – GULPUT (Golongan Putih), yaitu masyarakat yang tidak menggunakan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu, ternyata cukup dominan pada Pilgub Jatim yang berlangsung, Selasa (5/11).

 

 

Data yang berhasil dihimpun, angka golput atau pemilih tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS) hampir separuh. Berdasarkan hasil quick count Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), maupun Lembaga Survei Nasional (LSN), angka golput mencapai sekitar 48,5 persen dari jumlah 29,2 juta pemilih yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Dengan demikian terjadi peningkatan angka golput cukup signifikan. Pada Pilgub putaran pertama 23 Juli 2008, terdapat 11.152.406 pemilih dari 29.061.718 DPT, atau 38,37 persen yang tak datang ke TPS alias golput.

Banyak faktor yang membuat besarnya angka golput. Selain tak mendapat kartu pemilih, banyak pula yang malas ke TPS. Di Kota Kediri misalnya, lebih dari 10.000 warga yang masuk DPT tidak bisa mencoblos karena tak kebagian kartu pemilih.

Panwas Kota Kediri, Zaenal Arifin mengungkapkan, alasan warga tak mencoblos sebenarnya karena malas ke TPS serta dipicu karena tak memiliki kartu pemilih, terutama pemilih tambahan. Mereka yang tak kebagian kartu mencapai 10.162 orang.

Zaenal berpendapat, penambahan jumlah pemilih yang gagal nyoblos ini lantaran KPUD Kediri tidak cepat mendistribusikan kartu pemilih. Ini membuat angka golput di daerah ini meningkat tujuh persen dibanding Pilgub putaran pertama.

Juru bicara KPUD Kota Kediri Taufik Al Amin mengakui banyak kartu pemilih khususnya bagi pemilih tambahan terlambat didistribusikan. “Itu salah KPU provinsi yang sengaja mengirimkannya terlalu mepet yakni H-1 coblosan. Kami kan banyak pekerjaan, apalagi KPU baru saja punya gawe Pilwali Kediri 23 Oktober lalu,” elaknya.

Rendahnya partisipasi warga memilih juga terlihat di Jember, Sidoarjo, dan Bojonegoro. Seperti diungkapkan Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) TPS 8 Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Kota Bojonegoro, Edy Purwanto. Dari beberapa TPS yang ditempatkan di RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo, jumlah pemilih di RS itu hanya 36 orang. Pada putaran pertama lalu, jumlah pemilih mencapai 64 orang. “Antusiasme masyarakat di putaran kedua ini sangat kurang. Bahkan, saya melihat antusiasme warga lebih besar waktu pemilihan bupati,” paparnya.

Edy mengakui, kartu pemilih menjadi alasan warga tidak mau menyalurkan hak pilihnya. Kabag Bina Mitra Polres Bojonegoro, Kompol Kusein Hidayat menambahkan, dari hasil pantauannya, partisipasi pemilih ke TPS tidak sampai 60 persen.

Di Jember, partisipasi pemilih lebih buruk lagi. Ketua KPUD Jember Sudarisman mengatakan, setelah memantau sejumlah TPS, ia memprediksi yang ikut coblosan tidak sampai 50 persen. Ada beberapa hal menjadi penyebab tingginya golput. Antara lain amburadulnya DPT serta tidak diliburkannya sejumlah instansi di Jember.

Sementara itu untuk meminimalkan angka golput, KPPS TPS 07 Lingkungan Wonosari Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember mengenakan pakaian kesenian kuda lumping. Sebelum TPS dibuka, warga juga disuguhi atraksi kuda lumping.

Tak ayal, TPS itu dibanjiri pemilih dan penonton.
Tingginya golput membuat prihatin panitia pemungutan suara (PPS). PPS di TPS 26 Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari, Surabaya mengekpresikan keprihatinan dengan menempatkan keranda mayat dan payung bawat (payung untuk orang meninggal) di depan TPS di Balai RT 7/RW 5 Kelurahan Keputran atau tepatnya di samping kantor Kecamatan Tegalsari. Di samping keranda mayat diberi tulisan “Dukanya krisis kepercayaan”. Lewat pengeras suara, juga diputar bacaan talqin, dan semua anggota KPPS mengenakan pakaian serba hitam simbol duka cita.

Ketua KPPS TPS 26 Kelurahan Keputran, Asmorohadi mengatakan penempatan keranda mayat disengaja sebagai bentuk keprihatinan atas tingginya golput. “Masak setiap ada coblosan, angka golput selalu lebih dari 50 persen,” ujarnya. (surya/yra)

 


Pilgub Jatim (2)

5 November, 2008

Pemenangnya Tunggu

Hasil Perhitungan KPU

Kartu Pemilih yang bakal dihitung ulang di KPU

Kartu Pemilih yang bakal dihitung ulang di KPU

 

 

SURABAYA (radarpemilu) – PILKADA

 

 

putaran ke dua pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur, selesai dilaksanakan, Selasa (4/11). Pertarungan Khofifah Indar Parawansa Mudjiono (Ka-Ji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) dalam coblosan kedua Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur (Pilgub) Jatim, Selasa (4/11), menunjukkan hasil perolehan sangat ketat.
Karena itu pula, empat lembaga survei belum berani memastikan siapa yang bakal menjadi pemenang karena selisih angkanya tipis.

Hasil penghitungan cepat (quick count) Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, Ka-Ji meraih 50,55 persen suara, sedangkan KarSa meraih 49,45 persen.
“Namun kami tidak bisa menyimpulkan siapa pemenangnya karena selisih suara kedua pasangan masih berada dalam area margin of error,” jelas Adam Kamil, Peneliti LSI dalam konfrensi pers di poskonya, Hotel Mercure.
 
 
 

 

 

 

Margin of error (toleransi kesalahan) yang ditetapkan dalam quick count ini adalah 1-2 persen.

Artinya, suara milik kedua pasangan terbuka kemungkinan naik atau turun antara 1-2 persen dari penghitungan manual KPU.

“Tapi kalau mengacu pengalaman kami selama ini, selisih hasil quick count kami dengan KPU rata-rata hanya nol koma,” katanya.

 

Dalam penghitungan cepat ini, LSI menarik suara dari sample 397 TPS (tempat pemungutan suara). Sebenarnya jumlah sample yang ditetapkan 400 TPS yang tersebar di 38 kota/kabupaten. Namun ada tiga TPS, di Ponorogo, Pacitan, dan Tulungagung yang datanya belum masuk hingga hasil quick count diumumkan pukul 16.00 WIB.

Demikian pula Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP), tidak berani menyimpulkan siapa pemenang pada pilgub putaran kedua ini, meski hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS dimenangkan Ka-Ji. Pasalnya, dalam hasil quick qount, perbedaan angka antara Ka-Ji dan KarSa sangat tipis, di bawah angka 2 persen.

“Kami tidak berani mengklaim kemenangan Ka-Ji. Karena perbedaannya sangat tipis,” kata Direktur LSI Eka Kusmayadi dalam jumpa pers di ruang Bali Room Hotel JW Marriot.

Dari hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS di seluruh Jatim, Ka-Ji meraup 50,76 persen, KarSa 49,24 persen. KarSa menang di beberapa daerah seperti Madura (50 %) dan KaJi 47,50 %. Untuk Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Ka-Ji meraup 56,21% dan KarSa 43,79%. Untuk Surabaya dan Sidoarjo, KaJi 52,43% dan KarSa 47,57%.

Menurut Eka, posisi keduanya bisa saja berubah sebaliknya. Alasan tidak mengklaim siapa pemenang, katanya, adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Senada, Lembaga Survei Nasional (LSN) juga menyatakan untuk sementara pasangan Ka-Ji unggul tipis. Lewat perhitungan cepat yang mereka lakukan, Ka-Ji meraih 50,29 %, sementara KarSa memperoleh 49,71 %. “Quick count LSN didasarkan atas pengamatan dan pencatatan ratusan relawan di seluruh Jawa Timur,” kata Umar Bakry, Direktur LSN.

LSN juga belum berani memastikan pasangan Ka-Ji sebagai pemenang karena perbedaan yang sangat tipis memungkinkan terjadinya perubahan suara pada perhitungan manual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim.

“Secara metodologi, dengan margin of error plus minus satu persen, masih ada kemungkinan KarSa memperoleh suara 50,29 persen dan ada kemungkinan pula Ka-Ji memperoleh suara riil 49,71 persen,” katanya. Menurut Umar, pemilih yang tidak menggunakan hak pilih sebesar 46,5 persen sehingga tingkat partisipasi dalam Pilgub Jatim kali ini 53,5 persen.

Hal sama didapat dari quick count Pusat Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), yakni Ka-Ji meraih 50,83 % suara, Karsa 49,17 % suara. Hasil itu disampaikan Direktur Eksekutif Puskaptis, Husin Yazid di Hotel Inna Simpang Surabaya.

Dikatakan, dalam survei pihaknya menggunakan responden 380-400 TPS yang telah melakukan penghitungan, dengan sample 152 kelurahan/desa dan 10 hingga 15 TPS per desa, serta dengan margin of error (tingkat kesalahan) sekitar satu persen.

“Selisih yang sangat sedikit ini menurut angka statistik sangat riskan. Dalam penghitungan cepat, pasangan Ka-Ji memang unggul, namun hasil final penghitungan resmi ada di KPU Jatim,” kata Husin.

Berkah PDIP

Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Adam Kamil meyakini keberhasilan Ka-Ji ini karena berkah PDIP. Sementara untuk suara nahdliyin (warga NU), baik yang di PKB maupun yang di partai lain, terdistribusi merata untuk kedua pasangan.

Bukti ini bisa terlihat dari suara Ka-Ji yang cukup tinggi di daerah-daerah basis PDIP. Adam mencontohkan, kemenangan Ka-Ji di kawasan Arek (Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, dan Malang) yang mencapai 52,52 persen dan KarSa 47,45 persen. Kondisi ini berbalik dibanding putaran pertama 23 Juli lalu. Saat itu Ka-Ji kalah dari Karsa, bahkan khusus Surabaya juga kalah dari pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR).

Bulan September atau dua bulan setelah putaran pertama berlalu, LSI melakukan survei. Hasilnya, di wilayah ini terlihat kecenderungan KarSa masih jauh mengungguli Ka-Ji. Tetapi di luar itu ada pemilih yang masih mengambang, yang jumlahnya juga besar.

Mereka ini utamanya eks pemilih Salam (Soenarjo-Ali Maschan) dan jago PDIP. “Oktober kemarin, PDIP bergabung ke Kaji. Inilah yang membuat Ka-Ji unggul,” katanya.

Berdasarkan survei LSI, untuk daerah Pendalungan (antara Pasuruan hingga Banyuwangi), Ka-Ji meraih 49,15 5 suara dan KarSa 50,85 %. Untuk daerah Madura, KarSa meraih 56,03 %, Ka-Ji 43,07 %, untuk daerah Pantura di antaranya Gresik- Lamongan-Bojonegoro, Ka-Ji meraih 58,73 % dan KarSa 41,27 %. Sedangkan untuk daerah Mataraman seperti Madiun dan Ngawi, KarSa meraih 50,79 % suara, Ka-Ji 49,21 %.

Atas perolehan hasil ini, baik Khofifah maupun Soekarwo bisa menerima. “Yang penting pemilihan gubernur berjalan aman dan damai,” tegas Soekarwo kepada wartawan.

Menurut Pakde, siapapun yang terpilih, itu merupakan pilihan rakyat Jatim dan diridhai Tuhan. Tapi mengenai kepastian siapa pemenangnya, tentu harus menunggu penghitungan manual dan keputusan resmi dari KPUD. “Kalau sudah ditetapkan KPUD, semua pihak harus menghargai keputusan tersebut,” jelasnya.

Soekarwo dan keluarganya kemarin mencoblos di TPS 27 di Jl Kertajaya Indah Tengah Blok H, Kelurahan Manyar Sabrangan, sekitar pukul 08.10 WIB. Selain Pakde dan istri, Nina Kirana, tiga anaknya, Ferdian Timur Satyagraha, Karina Ayu Paramita, dan Kartika Ayu Pramitasari serta menantunya juga ikut mencoblos.

Disinggung mengenai hasil akhir pilgub putaran kedua nanti, jika menang Pakde berjanji mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama membangun Jatim. Dengan prioritas menangani masalah perekonomian yang saat ini kritis menyusul adanya semburan lumpur Lapindo.

Sementara kalau kalah, Pakde mengaku akan kembali ke basic awal sebagai akademisi. “Saya ini kan dosen, demikian juga dengan istri. Kalau tak terpilih, ya kembali ke maqam keluarga sebagai akademisi,” tukasnya. Selain itu, Pakde juga ingin menjadi penulis.

Berdasarkan hasil penghitungan suara di TPS 27 Kelurahan Manyar Sabrangan tempat Pakde mencoblos, dari 200 orang yang menggunakan hak suaranya, KarSa menang mutlak dengan 172 suara (87 persen), Ka-Ji 25 suara (12 persen), dan tiga suara tidak sah.

Pendukung Ka-Ji Tegang

Seperti halnya KarSa, proses penghitungan suara melalui penghitungan cepat membuat jantung calon gubernur Khofifah Indar Parawansa dan pendukungnya berdebar-debar. Di posko Ka-Ji di Deltasari, Khofifah terlihat pucat, matanya sembab. Meski demikian, ia selalu tampil dengan senyuman. Sejak awal hingga akhir, Khofifah tidak melihat sama sekali proses quick count. Ia hanya keluar kamar tidurnya ketika sedang live show dengan beberapa crew TV.

Setelah itu, ia kembali ke kamar. Sesekali ia melemparkan senyum kepada pendukungnya. “Ibu menang….,” teriak pendukung Ka-Ji dari pengurus Muslimat ketika melihat Khofifah hendak masuk kamar. Pengurus Muslimat itu di antaranya, Asmah Syahroni (Dewan Penasihat PP Muslimat NU), Umi Sa’adah (PW Muslimat Jatim), Faridah Sholahuddin Wahid (istri KH Shalahuddin Wahid) dan Faridah Hanum (Ketua Fatayat NU).

Tidak hanya Khofifah, ruang tamu yang dijubeli pengurus muslimat, tim sukses dan wartawan itu terlihat tegang. Mata mereka tak mau lepas dari layar TV. Tiap perubahan perolehan suara tak lepas dari pengamatan mereka. Mulut pendukung itu pun komat-kamit berdoa. “Alhamdulillah naik lagi (perolehan suara Ka-Ji naik),” ucap mereka serentak. Tapi ketika suara Ka-Ji turun, muka mereka kembali tegang dan pucat.

Tiga jam mereka tegang di depan TV, akhirnya penantian sosok Khofifah yang diidam-idamkan memperoleh suara terbanyak, meskipun tipis.

“Kalau Allah memberi kemenangan, ini adalah kemenangan rakyat Jatim. Saya selalu menyampaikan, ini adalah proses perjuangan seluruh rakyat Jatim,” tutur Khofifah. Namun ia tak ingin berbesar hati. Ia akan menunggu hingga hasil penghitungan manual KPU Jatim usai. “Kami harus menjaga bagaimana proses penghitungan manual itu dilakukan secara jujur,” katanya. (surya/yra)

 


Pilgub Jatim (1)

5 November, 2008

Khofifah Unggul

Di Quick Countkhofifah-indar-parawansa

SURABAYA (radarpemilu) – UNTUK sementara pada perhitungan ce3pat (quick count) Khofifah Indar Parawansa unggul dalam Pilgub  Jawa Timur (Jatim) yang berlangsung, Selasa (4/11). Khofifah bersama pasangannya, cawagub Mudjiono, meraih lebih tinggi suara dibanding pasangan KarSa (Dr.Soekarwo-Saifullah Yusuf). Dalam penghitungan cepat Jatim yang dilakukan sejumlah lembaga survei independen, selisihnya amat tipis, di bawah satu persen.

Berdasarkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia (LSI) atas 99% suara yang masuk, KarSa memperoleh 49,48% suara, sedang Ka-Ji memperoleh 50,52% suara. Begitu pula Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Danny JA dengan suara masuk 99,75%, Ka-Ji mendapat 50,76% suara, sedang KarSa 49,24% suara, dan Lembaga Survei Nasional (LSN) Ka-Ji 50,71 % suara, KarSa 49,29 % suara. Lalu Puskaptis (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) pasangan Ka-Ji 55.663 suara atau 50.83%, sedangkan pasangan KarSa 53.853 suara atau 49.17%.

Direktur riset Lingkaran Survei Indonesia, Eka Kusmayadi, dalam konferensi pers di Hotel J.W. Marriott, mengatakan, dari 38 kabupaten/kota di Jatim, Ka-Ji unggul di 21 daerah (lihat grafis). Pantauan di lapangan malah menunjukkan kedigdayaan pasangan Ka-Ji hampir merata di Jawa Timur. Pasangan Khofifah-Mudjiono misalnya menang telak di Tuban. Ka-Ji menyapu bersih suara di TPS 11 Pondok Pesantren Langitan Kecamatan Widang Tuban yang juga terkenal sebagai basis PKNU. Dari hasil penghitungan di lokasi pondok yang diasuh oleh KH Abdullah Faqih ini, pasangan Ka-Ji mendapatkan 377 suara, sementara KaSa hanya 8 suara. Ketua KPPS 11, Abdul Muis, mengatakan, kemenangan Ka-Ji mutlak karena dari 385 suara yang sah 95% didapat oleh Ka-Ji. ?Ya karena di TPS ini ada Kiai Kharismatik dari PKNU,? kata Abdul Muis. Secara keseluruhan di Tuban Ka-Ji menang telak dengan 98.978 suara, sedang KarSa memperoleh 67.292 suara.

Begitu pula di Kab. Kediri. Seperti diprediksi sejak awal, pasangan Ka-Ji unggul. Data yang masuk Panitia Pengawas (Panwas) Pilgub Kabupaten
Kediri hingga pukul 18.20 WIB, Ka-Ji mendapat 321.978 suara atau sebesar 53,78%. Hasil tersebut diperoleh dari daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.210.892 suara yang tersebar di 2.600 tempat pemungutan suara (TPS). Sedang pasangan KarSa hanya meraup 276.708 atau 46,22%. Sisanya tidak sah, serta golput sebesar 49,36%.

Lalu di wilayah Kota Kediri pasangan Ka-Ji juga terlihat unggul di beberapa tempat, contohnya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Kediri, Jl. Jaksa Agung Suprapto, Mojoroto, Kota Kediri. Di TPS 22 Lapas Kediri tersebut, pasangan Ka-Ji mendapatkan 91 suara, lebih tinggi dibanding pasangan KarSa yang hanya 61 suara. Sedangkan, di TPS 23, yang diperuntukkan bagi penghuni Lapas Kediri yang sebelumnya tidak masuk dalam DPT, pasangan Ka-Ji hanya meraup sembilan suara, sementara KarSa unggul dengan 12 suara.
?Namun, setelah ditotal, di sini Ka-Ji unggul dengan perolehan 100 suara, sedang KarSa hanya 73 suara,? kata Ketua Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS) Lapas Kediri, Edy Subiantoro. Secara keseluruhan di Kota Kediri KarSa unggul dengan 64.245 suara, Ka-Ji 51.338 suara.

Ka-Ji juga digdaya di Lamongan. Di daerah yang dipimpin Bupati Masfuk dari PAN ini, Ka-Ji meraup 322.169 suara atau dalam hitungan cepas LSI 54,31%. Sedangkan KarSa 250.582 suara?di mana dalam hitungan cepat LSI 45,61%.
Bahkan menang telak di TPS IV Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Di daerah Amrozi ini, pasangan nomor satu mengumpulkan 135 suara. Sedang KarSa hanya didukung 47 suara. Dari 386 daftar pemilih tetap (DPT) di TPS, di mana Amrozi tercatat sebagai salah satu DPT, suara yang tidak sah sebanyak 12 suara. Padahal daerah ini dikenal sebagai kantong suara KarSa. Lalu di TPS I desa setempat pasanan Ka-Ji meraih 190 suara, KarSa memperoleh 62 suara dan tidak sah 7 suara. Di TPS II Ka-Ji memperoleh 195 suara KarSa mendapat 343 suara dan tidak sah sebanyak 2 suara. Di TPS III Ka-Ji mendapat 160 suara dan KarSa memperoleh 32 suara dan tidak sah sebanyak 8 suara sehingga total perolehan suara di Desa Tenggulun Ka-Ji 680 suara, KarSa 184 suara dan tidak sah 29 suara, dari 1.520 DPT. Di TPS IV Desa Tenggulun, Amrozi masuk dalam DPT. Selain Amrozi juga menantunya, ibunya Ny Tariyem, serta adiknya Ali Imron (Ale) terpidana seumur hidup kasus Bom Bali I. Dari keluarga Amrozi tersebut, tidak ada yang memanfaatkan hak pilihnya. ??Mungkin karena takut dijepret wartawan,? celetuk salah satu pengunjung TPS.

Sementara kakak Amrozi Ustadz Khozin dan ustadz Ja?far Shodiq tercatat dalam DPT TPS I Desa Tenggulun. Hanya ustadz Khozin yang memanfaatkan hak pilihnya pada Pilgub Jatim putaran kedua kemarin. ?Jadi dari keluarga Ponpes Al-Islam hanya Ali Ghufron yang tidak tercatat dalam DPT di Desa Tenggulun. Pak Ja?far tidak hadir, kalau Pak Chozin hadir,? kata salah satu petugas di TPS I Tenggulun.

Suara Perempuan

Ka-Ji juga menang di Kab. Mojokerto. Hasil penghitungan suara dari 18 kecamatan pasangan Ka-Ji mendapatkan 238.436 atau 52,03 persen suara. Sedang KarSa 219.790 atau 47,96 persen. Dari 18 kecamatan itu, KarSa hanya menang tipis di 4 kecamatan yakni di Dawarblandong, Kemlagi, Sooko, dan Gondang.

Koordinator Tim Pemenangan KarSa dari Rakyat Peduli Kemiskinan (RPK) Kabupaten Mojokerto, Syamsul Hadi, mengaku sudah berusaha maksimal memenangkan KarSa. ?Kita memang tidak bisa mengubah fanatisme perempuan pilih perempuan,? kata Syamsul.

Ia juga mengaku pada Pilgub Jatim putaran kedua ini, partisipasi perempuan untuk datang ke TPS memang sangat tinggi, sehingga dapat mendongkrak suara Ka-Ji. ?Apalagi ditunjang dengan semangatnya Muslimat NU,? ujar Syamsul. Sedang di Kota Mojokerto dimenangkan KarSa. Di dua kecamatan itu, KarSa mendapatkan 27.958 suara dan Ka-Ji mendapatkan 24.697 suara.
Pasangan Khofifah-Mudjiono juga menguasai wilayah Kab. Malang Raya. Pantauan Duta?di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Malang Ka-Ji menang terhadap KarSa.

Bahkan dari sepuluh kecamatan yang telah menyelesaikan penghitungan, Karsa hanya berjaya di Kecamatan Lawang dengan komposisi perolehan suara Ka-Ji 13.412, Karsa 16.742, suara tidak sah 1.413, sedangkan tingkat kehadiran pemilih di gerbang masuk Kabupaten Malang ini sebesar 42,47%.
Sementara Ka-Ji berjaya di Kecamatan Turen, Gondanglegi, Kalipare, Pakisaji, dan Kecamatan Pakis. Di kecamatan lain, meski hasil penghitungan suara belum selesai, tapi pasangan Ka-Ji unggul tipis atas KarSa.

Lalu di Kota Malang, menurut Priyatmoko Oetomo, Sekretaris PDIP Kota Malang yang juga Ketua DPRD, dari hasil laporan tim PDIP yang diterjunkan ke semua TPS, untuk sementara pasangan Ka-Ji menang hampir di semua kelurahan. Pihaknya, menurut Moko, panggilan akrab pria murah senyum ini, memang sengaja menerjunkan tim untuk memantau langsung Pilgub karena merupakan instruksi partai.

?Kalau sudah menjadi garis partai, apa pun akan kami lakukan termasuk mengamankan Cagub yang didukung partai?, katanya.
Yang lebih mengejutkan lagi pasangan Ka-Ji menang mutlak di semua TPS di mana semua kepala daerah memberikan suaranya. Di TPS 9 di mana Walikota Malang Peni Suparto mencoblos, pasangan Khofifah menang, hal itu juga terjadi di TPS 16 Kelurahan Lowokwaru di mana Priyatmoko mencoblos. Di TPS Wawali Bambang Priyo Utomo, Ka-Ji juga menang.

Sementara di Kabupaten Malang di TPS Bupati Malang dan Wakil Bupati Rendra Kresna memberikan suranya Ka-Ji menang meskipun tipis. Sedang di Batu, Ka-Ji menang dengan 9.215 suara, sedang KarSa 8.967 suara. Selain itu Trenggalek juga dikuasai Ka-Ji dengan 152.921 suara, KarSa 122.008 suara. Lalu Jember 361.373 suara, KarSa 264.584 suara.

Figur Perubahan

Sementara itu penghitungan cepat Puskaptis, kata Direktur Eksekutif Puskoptis, Ir Husin Yazid MSi, pasangan Ka-ji unggul di 20 Kab/Kota, yaitu Kab. Banyuwangi, Kab. Blitar, Kab. Bojonegoro, Kab. Gresik, Kab. Kediri, Kab. Lumajang, Kab. Malang, Kab. Nganjuk, Kab. Ngawi, Kab. Pamekasan, Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab. Sampang, Kab. Sumenep, Kab. Situbondo, Kab. Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kota Blitar, Kota Kediri, dan Kota Surabaya.

?Kemenangan Ka-ji banyak dipengaruhi dari sumbangan suara PDIP, kerja keras Khofifah dan Mudjiono, banom NU dan masyarakat Jatim yang menginginkan figur pemimpin baru atau perubahan,? tegas Husin Yazid.
Sementara keunggulan KarSa didapatkan di 18 Kab/Kota. Di antaranya Kab. Bangkalan, Kab. Bondowoso, Kab. Jember, Kab. Jombang, Kab. Lamongan, Kab. Madiun, Kab. Magetan, Kab. Mojokerto, Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Sidoarjo, Kab. Tuban, Kota Batu, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, dan Kota Probolinggo.

Sementara penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia (LSI), hasilnya juga tidak jauh berbeda, yaitu Khofifah unggul tipis atas Pakde Karwo. ?Kaji mendapatkan 48.829 suara atau 50,44 persen dan Karsa mendapatkan 47.974 suara atau 49.56 persen. Selisihnya cuma 0,98 persen,? terang Peneliti LSI Jakarta, Moh. Adam Kamil saat menggelar jumpa pers di Hotel Mercury Surabaya kemarin.

Menurut Adam Kamil, kemenangan Ka-ji pada putaran kedua ini banyak disebabkan Ka-Ji mampu mengambil hati dan meyakinkan suara pemilih mengambang (swing votter) yang jumlahnya diperkirakan mencapai 8-9 persen. ?Keunggulan Kaji atas Karsa diperoleh di daerah Arekan, sebesar 52,55 persen berbanding 47,45 persen dan di daerah Pantura sebesar 58,73 persen berbanding 41,27 persen,? ujarnya

Sedangkan kemenangan KarSa diperoleh di daerah Pendalungan, sebesar 50,85 persen dibanding 49,15 persen. Kemudian di daerah Madura, 56,30 persen berbanding 43,70 persen dan daerah Mataraman, 50,79 persen berbanding 49,21 persen. ?Kendati keunggulan Kaji atas KarSa tipis tapi hasil quick count LSI selama ini belum pernah beda dengan hasil KPU,? tegas Adam Kamil.(duma/yra)


Pilgub Jatim Putaran II-4November 2008

29 Oktober, 2008
       

 

 

Soekarwo dan Mudjiono

Menjamin Aman

 

 

SURABAYA (radarpemilu) – SOEKARWO, cagub Jatim yang berpasangan dengan Saifullah Yusuf,  dan Mudjiono, cawagub pasangan Khofifah Indar Parawansa, menyatakan siap bertanggungjawab jika ada massa pendukung mereka melakukan pelanggaran hukum pada putaran dua, 4 November 2008 mendatang. Kesiapan itu ditegaskan dalam Ikrar dan Deklarasi Damai di Mapolda Jatim, Selasa (28/10).


Selain ikrar tersebut, mereka menyatakan siap menerima keputusan KPU Jatim atas hasil pilgub secara demokratis dan sportif. Juga,  mengedepankan azas musyawarah untuk mufakat guna  menyelesaikan masalah yang terjadi selama pilgub.

Menanggapi hal itu, Kapolda Jatim,  Irjen Pol Herman Suryadi Sumawiredja, mengingatkan, meskipun ikrar tersebut tidak diawali dengan kata ‘demi Allah’, namun konsekuensinya tetap berat. “Janji kepada manusia lebih berat karena manusia itu sulit memaafkan. Kalau janji kepada Allah itu lebih ringan karena Allah itu Maha Pemaaf,” katanya seraya meminta dua pasangan cagub-cawagub melaksanakan dan mensukseskan pilgub secara damai.

Pada kesempatan itu, Soekarwo alias Pekde mengaku siap memberikan selamat ke pasangan Khofifah-Mudjiono jika terbukti kalah. “Tapi naudzubillahimindalik, ya,” katanya.

Hal sama dikatakan Mudjiono, yang juga mantan kasdam V Brawijaya. “Kalau menang kami syukuri, kalah pun kami syukuri. Kalau kalah saya akan mengucapkan selamat. Jika memang saya akan merangkul Pak Karwo dan jajaran pendukungnya,” kata Mudjiono.

Undangan Mendadak
Mengenai ketidakhadiran Khofifah dalam acara tersebut, Mudjiono menjelaskan, Khofifah ada acara yang tidak bisa ditinggalkan di Blitar. “Undangan ini mendadak, tidak bisa disesuaikan. Jadi saya yang diberi mandat kesini,” ucapnya.
Sedangkan Pejabat Gubernur Jatim, Setia Purwaka, meminta kepada dua pasang cagub-cawagub mengendalikan pendukung simpatisan  masing-masing agar tidak berbuat anarkhi dan memicu kerusuhan. Permintan ini disampaikan karena pelaksanaan pilgub putaran kedua semakin dekat.
Sebagaimana diketahui, tiga hari kedepan, 29-31 Oktober, sudah masuk masa kampanye, disusul tiga hari masa tenang, sampai kemudian coblosan pada Selasa (4 November) mendatang. Menurut Setia, sepekan ke depan merupakan waktu sangat penting menentukan sukses-tidaknya pelaksanaan pilgub.
Dia mengingatkan masyarakat waspada, terutama terhadap kemungkinan munculnya kampanye hitam (black campaign) yang bisa memicu konflik horizontal antarmassa pendukung dua pasangan calon.  “Jangan sampai kerusuhan di Maluku Utara terjadi di Jatim,” tegasnya, di Gedung Negara Grahadi, Selasa (28/10).
Sedangkan Panwas Pilgub Jatim akan bertindak tegas kepada tim kampanye pasangan cagub yang melakukan pelanggaran. Panwas memprediksi dalam kampanye putaran kedua akan banyak pelanggaran. KPU Jatim melarang calon kempanye di tempat terbuka.
“Kami sudah mengantisipasi dan berjaga di tempat-tempat yang selama ini digunakan kampanye oleh calon, seperti pasar dan pengajian,” ujar Abdullah Bufteim, anggota Panwas Jatim,melalui ponsel. (sry/yous)